Aveneu Park, Starling, Australia

BAB organ vital yang memiliki peran besar dalam sistem

BAB IPENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PenelitianLever atau hati adalah organ vital yang memiliki peran besar dalam sistem pencernaan, biosintesis, metabolisme energi, pembersihan sampah tubuh, dan pengatur sistem kekebalan tubuh. Bila ada bahan-bahan mengandung toksik atau racun, hati akan bekerja sangat keras untuk menetralkannya. Cara kerja seperti ini menyebabkan hati mudah terkena racun, sehingga hati gampang rusak. Kerusakan hati dapat disebabkan oleh infeksi virus, obat atau trauma, atau dikarenakan bahan kimia yang berasal dari asap rokok.Rokok merupakan sumber radikal bebas, jika masuk ke dalam tubuh secara terus menerus sel tubuh akan mengalami stres oksidatif yang berakhir pada kerusakan sel tak terkecuali sel hati. Melihat fungsi hati yang sangat luas dan kompleks, maka banyak tes laboratorium faal hati yang dapat digunakan. Salah satu test faal hati yaitu dengan mengukur kadar SGOT (Serum Glutamat Oxaloasetat Transaminase) dan SGPT (Serum Glutamat Pyruvat Transaminase), kadar SGOT dan SGPT akan meningkat bila ada kerusakan pada hati. Pengukuran SGOT dan SGPT adalah salah satu indikasi ganguan metabolik karena aktifitas radikal bebas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar SGOT dan SGPT pada tikus putih (Rattus norvegicus) akibat asap rokok dan pengaruhnya terhadap pemberian anti oksidan berupa seduhan daun kelor. Tanaman Kelor (Moringa oleifera) merupakan jenis tanaman yang banyak dijumpai di Indonesia, tidak mengenal musim, dapat tumbuh dalam berbagai iklim dan di beberapa daerah biasa diolah untuk dikonsumsi. Tanaman ini dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit, di antaranya ekstrak daun kelor diketahui mampu menjadi antioksidan, hepatopreotective, imunomodulator, dan antiinflamasi. Tanaman Kelor (Moringa oleifera) merupakan jenis tanaman yang banyak dijumpai di Indonesia, tidak mengenal musim, dapat tumbuh dalam berbagai iklim dan di beberapa daerah biasa diolah untuk dikonsumsi. Tanaman ini dipercaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit, diantaranya ekstrak daun kelor diketahui mampu menjadi antioksidan, hepatopreotective, imunomodulator, dan antiinflamasi. Ekstrak daun kelor terbukti memiliki sifat antioksidan dan hepatoprotective dengan memperbaiki membran sel hepar pada tikus yang diberi paparan Carbon Tetrachloride (CCl4) (Rahmawati dan Candra, 2015).Olahan daun kelor dapat ditemukan dalam bentuk ekstrak, bubuk, dan teh. Produk-produk tersebut bertujuan untuk mempermudah penggunaanya di masyarakat, serta meningkatkan masa simpan. Akan tetapi, belum terdapat penelitian ilmiah mengenai pengaruh konsumsi seduhan daun kelor terhadap penurunan kadar SGOT dan SGPT dengan subjek hewan coba maupun manusia. Oleh karena itu, penelitian ini diawali dengan menggunakan hewan coba. Pemilihan hewan coba adalah tikus putih (Rattus novergicus) karena tahan terhadap perlakuan pada penelitian.  1.2. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka identifikasi masalah penelitian adalah :1. Apakah seduhan daun kelor dapat diberikan kepada tikus putih?2. Apakah seduhan daun kelor berpengaruh terhadap kadar SGOT dan SGPT tikus putih yang terpapar asap rokok?3. Bagaimana perbandingan kadar SGOT dan SGPT sebelum dan sesudah diberikan seduhan daun kelor? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian seduhan daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kadar SGOT dan SGPT tikus putih (Rattus novergicus), mengetahui nilai atau kadar SGOT dan SGPT tikus putih yang terpapar asap rokok setelah diberi seduhan daun kelor, sehingga dapat diharapkan untuk studi lebih lanjut terhadap manusia. 1.4. Kegunaan PenelitianAdapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan informasi, antara lain :1. Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam yang ada di lingkungan sekitar.2. Mengetahui manfaat lain dari daun kelor (Mongifera oleifera) yaitu dapat menurunkan kadar SGOT dan SGPT.3. Memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat tentang pemanfaatan daun kelor.                     BAB IIKAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1. Kajian Pustaka2.1.1 Kelor (Mongifera oleifera)Tanaman Kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu jenis tanaman tropis yang mudah tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman kelor merupakan tanaman perdu dengan ketinggian 7-11 meter dan tumbuh subur mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Kelor dapat tumbuh pada daerah tropis dan subtropis pada semua jenis tanah dan tahan terhadap musim kering dengan toleransi terhadap kekeringan sampai 6 bulan (Syarifah, et al., 2015).Kelor dikenal di seluruh dunia sebagai tanaman bergizi dan WHO telah memperkenalkan kelor sebagai salah satu pangan alternatif untuk mengatasi masalah gizi (malnutrisi) (Broin, 2010). Di Afrika dan Asia daun kelor direkomendasikan sebagai suplemen yang kaya zat gizi untuk ibu menyusui dan anak pada masa pertumbuhan. Semua bagian dari tanaman kelor memiliki nilai gizi, berkhasiat untuk kesehatan dan manfaat dibidang industri.  Selain itu tanaman ini juga bermanfaat dalam memperbaiki lingkungan, terutama berfungsi untuk memperbaiki kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji kelor dapat berperan sebagai koagulan alami dalam mengatasi pencemaran air limbah oleh pewarna sintetis. Sebelumnya dilaporkan bahwa biji kelor merupakan bahan alami yang terbaik yang berperan penting dalam pengelolaan air untuk memperbaiki kualitas air, mereduksi logam berat, bakteri E. Coli, alga serta sebagai surfaktan (Anwar et al., 2007)Di Indonesia tanaman kelor dikenal dengan nama yang berbeda di setiap daerah, diantaranya kelor (Jawa, Sunda, Bali, Lampung), maronggih (Madura), moltong (Flores), keloro (Bugis), ongge (Bima), murong atau barunggai (Sumatera) dan hau fo (Timur). Kelor atau yang dikenal dengan nama Drumstick yang merupakan tanaman asli kaki gunung Himalaya bagian barat laut India, Afrika, Arab, Asia Tenggara, Amerika Selatan (Shah et al., 2015).Saat ini kelor dikenal di 82 negara dengan 210 nama yang berbeda, diantaranya moringa, horseradish tree, drumstick, tree West Indian Ben (Inggris), sajina (Bangladesh), mrum (Cambodia), Ben ailé (Perancis), kelor, marunga (Indonesia), ‘ii h’um (Laos), meringgai, gemunggai, kelor (Malaysia), dandalonbin, (Myanmar), malunggay (Philippines), marum, phakihum, makhonkom (Thailand) dan chufm ngaasy (Vietnam) (Mardiana, 2013). Klasifikasi tanaman kelor (Moringa oleifera) adalah sebagai berikut : Syamsu Hidayat, 2013).Kingdom : PlantaeDivisi : SpermatophytaSubdivisi : AngeospermaeKlas : DicotyledoneaeOrdo : BrassicalesFamilia : MoringaceaeGenus : MoringaSpesies : Moringa oleifera Lamk Kelor merupakan tanaman yang berumur panjang dan berbunga sepanjang tahun. Bunga kelor ada yang berwarna putih, putih kekuning kuningan (krem) atau merah, tergantung jenis atau spesiesnya. Tudung pelepah bunganya berwarna hijau dan mengeluarkan aroma bau semerbak (Palupi et al., 2007). Umumnya di Indonesia bunga kelor berwarna putih kekuning-kuningan. Kandungan kimia bunga kelor disajikan pada Tabel 1.Tabel 1. Kandungan kimia bunga kelor  Gambar 1. Bunga Kelor (Sumber Mardiana, 2013) Daun kelor berbentuk bulat telur dengan tepi daun rata dan ukurannya kecilkecil bersusun majemuk dalam satu tangkai (Tilong, 2012). Daun kelor muda berwarna hijau muda dan berubah menjadi hijau tua pada daun yang sudah tua. Daun muda teksturnya lembut dan lemas sedangkan daun tua agak kaku dan keras. Daun berwarna hijau tua biasanya digunakan untuk membuat tepung atau powder daun kelor. Apabila jarang dikonsumsi maka daun kelor memiliki rasa agak pahit tetapi tidak beracun (Hariana, 2008). Rasa pahit akan hilang jika kelor sering dipanen secara berkala untuk dikonsumsi. Untuk kebutuhan konsumsi umumnya digunakan daun yang masih muda demikian pula buahnya. Daun kelor merupakan salah satu bagian dari tanaman kelor yang telah banyak diteliti kandungan gizi dan kegunaannya. Daun kelor sangat kaya akan nutrisi, diantaranya kalsium, besi, protein, vitamin A, vitamin B dan vitamin C (Misra et al, 2014). Daun kelor mengandung zat besi lebih tinggi daripada sayuran lainnya yaitu sebesar 17,2 mg/100 g (Yameogo et al. 2011). Kandungan nilai gizi daun kelor segar dan kering disajikan pada Tabel 2. Sumber : Yameogo et al, 2011 Selain itu, daun kelor juga mengandung berbagai macam asam amino, antara lain asam amino yang berbentuk asam aspartat, asam glutamat, alanin, valin, leusin, isoleusin, histidin, lisin, arginin, venilalanin, triftopan, sistein dan methionin (Simbolan et al. 2007). Kandungan asam amino daun kelor disajikan pada Tabel 3. Sumber : Simbolon et al, 2007 Berdasarkan penelitian Verma et al (2009) bahwa daun kelor mengandung fenol dalam jumlah yang banyak yang dikenal sebagai penangkal senyawa radikal bebas. Kandungan fenol dalam daun kelor segar sebesar 3,4% sedangkan pada daun kelor yang telah diekstrak sebesar 1,6% (Foild et al., 2007). Penelitian lain menyatakan bahwa daun kelor mengandung vitamin C setara vitamin C dalam 7 jeruk, vitamin A setara vitamin A pada 4 wortel, kalsium setara dengan kalsium dalam 4 gelas susu, potassium setara dengan yang terkandung dalam 3 pisang, dan protein setara dengan protein dalam 2 yoghurt (Mahmood, 2011). Setelah itu, telah diidentifikasi bahwa, daun kelor mengandung antioksidan tinggi dan antimikrobia (Das et al., 2012). Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan asam askorbat, flavonoid, phenolic dan karatenoid (Anwar et al., 2007)Buah kelor berbentuk panjang dan segitiga dengan panjang sekitar 20-60 cm, berwana hijau ketika masih muda dan berubah menjadi coklat ketika tua (Tilong, 2012). Biji kelor berbentuk bulat, ketika muda berwarna hijau terang dan berubah berwarna cokelat kehitaman ketika polong matang dan kering dengan rata-rata berat biji berkisar 18 – 36 gram/100 biji.Buah kelor akan menghasilkan biji yang dapat dibuat tepung atau minyak sebagai bahan baku pembuatan obat dan kosmetik bernilai tinggi. Selain itu biji kelor dapat berfungsi sebagai koagulans dan penjernihan air permukaan (air kolam, air sungai, air danau sampai ke air sungai). Penelitian tentang ini sudah diawali sejak tahun 1980-an oleh Jurusan Teknik Lingkungan ITB. Kemampuan memperbaiki kualitas air disebabkan oleh kandungan protein yang cukup tinggi pada biji sehingga mampu berperan sebagai koagulan terhadap partikel-partikel penyebab kekeruhan air. Konsentrasi protein dari biji kelor (biji dalam kotiledon) sebesar 147.280 ppm/gram (Khasanah dan Uswatun, 2008). Kandungan kimia buah dan biji kelor disajikan pada Tabel 4. Sumber : Khasanah dan Uswatun, 2008 Kelor tidak hanya kaya akan nutrisi akan tetapi juga memiliki sifat fungsional karena tanaman ini mempunyai khasiat dan manfaat buat kesehatan manusia. Baik kandungan nutrisi maupun berbagai zat aktif yang terkandung dalam tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan makhluk hidup dan lingkungan. Disamping itu, kelor sangat berpotensi digunakan dalam pangan, kosmetik dan industri (Anwar et al., 2007).Di beberapa wilayah di Indonesia, utamanya Indonesia bagian timur kelor dikonsumsi sebagai salah satu menu sayuran. Di Filipina, daun kelor sangatterkenal dikonsumsi sebagai sayuran dan dapat berfungsi meningkatkan jumlah ASI (air susu ibu) pada ibu menyusui sehingga mendapat julukan Mother’s Best Friend (Tilong, 2012). Hal ini disebabkan karena daun kelor mengandung unsur zat gizi mikro yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil, seperti beta carotene, thiamin (B1), Riboflavin (B2), niacin (B3), kalsium, zat besi, fosfor, magnesium, seng, vitamin C, sebagai alternatif untuk meningkatkan status gizi ibu hamil.  Sebagai pangan fungsional, bagian daun, kulit batang, biji hingga akar dari tanaman kelor tidak hanya sebagai sumber nutrisi tetapi juga berfungsi sebagai herbal buat kesehatan yang sangat berkhasiat (Simbolan et al., 2007). Saat ini penelitian dan uji klinis tentang fungsi kelor sebagai obat mulai berkembang meskipun manfaat dan khasiatnya belum banyak diketahui oleh masyarakat.Penemuan terbaru adalah fungsi daun kelor sebagai farmakologis, yaitu antimikroba, antijamur, antihipertensi, antihyperglikemik, antitumor, antikanker, anti-inplamasi (Toma & Deyno, 2014). Hal ini karena adanya kandungan diantaranya asam askorbat, flavonoid, phenolic, dan karatenoid itu hasil penelitian telah menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor dapat berfungsi sebagai antidiare (antidiarraheal activity) dengan dosis oral 300 mg/kg berat badan (Misra et al., 2014).Daun kelor dapat dimanfaatkan dalam bentuk tepung agar lebih awet dan mudah disimpan, demikian pula dengan biji kelor juga dapat diolah menjadi bentuk tepung. Fungsinya sama dengan tepung daun kelor nutrisi bahan pangan. Daun kelor yang akan dijadikan tepung harus dicuci untuk menghilangkan kotoran dan kuman dan sebaiknya tepung daun kelor ditambahkan pada saat makanan atau minuman siap disajikan karena zat gizinya rentan terhadap panas (Doerr & Cameron, 2005). Kandungan nutrisi tepung daun kelor disajikan pada Tabel 5. Sumber Doerr dan Cameron, 2005Menurut Broin (2010), terdapat tiga cara yang dapat dilakukan untuk mengeringkan daun kelor yaitu: 1) pengeringan di dalam ruangan, 2) pengeringan dengan cahaya matahari, dan 3) menggunakan mesin pengering. Daun yang sudah kering dan dapat dijadikan tepung dicirikan dengan daunnya rapuh dan mudah dihancurkan. Daun yang sudah kering dibubukkan menggunakan mortar ataupun penggilingan. Tepung daun kelor sebaiknya disimpan dalam wadah kedap udara dan terhindar dari panas, kelembaban, dan cahaya untuk menghindari pertumbuhan mikroogranisme dan masalah lain yang berbahaya. Tepung yang disimpan dalam keadaan bersih, kering, kedap udara, terlindung dari cahaya dan kelembaban serta suhu di bahwa 24o C dapat bertahan hingga 6 bulan. Kelor (Moringa oliferia) berpotensi besar sebagai sumber nutrisi, pengobatan alami, industri kosmetik, dan perbaikan linkungan. Semua bagian dari tanaman kelor memberikan khasiat dan manfaat dibidang pangan maupun non pangan. Sebagai tanaman yang kaya akan nutrisi baik makro maupun mikro tidak hanya sebagai sumber nutrisi bagiproduk pangan tetapi juga memberikan efek farmakologi. Hal ini disebabkan oleh tingginya kandungan senyawa bioaktif pada tanaman kelor. Potensi ini memberikan peluang bagi industri farmasi untuk menjadikan tanaman kelor sebagai pengobatan alternatif berbahan baku alami. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang bersumber dari kelor dapat dilakukan dengan mengkonsumsi kelor dalam berbagai sajian, diantaranya sebagai bahan sayuran, produk fortifikasi (aneka makanan dan minuman dan camilan), produk farmasi (capsul, tablet, minyak) dan sediaan dalam bentuk tepung. Melakukan penanganan maupun proses pengolahan kelor memerlukan teknologi yang tepat untuk mengurangi terjadi kerusakan nutrisi, diantaranya pengaruh suhu, proses pemanasan, perlakuan awal dan penyimpanan. 2.1.2 SGPT dam SGPTSGOT dan SGPT adalah dua macam enzim yang dihasilkan oleh sel-sel hati. Kedua enzim ini digunakan sebagai indikator pada pemeriksaan fungsi hati, dimana kadarnya akan meningkat dalam darah ketika sel-sel hati mengalami kerusakan.Tes fungsi sel hati yang umum untuk mengetahui adanya gangguan dalam organ hati adalah AST (aspartate transaminase), yang di Indonesia lebih sering disebut sebagai SGOT (serum glutamic-oxaloacetic transaminase), dan ALT (alanine transaminase) yang biasanya di Indonesia disebut sebagai SGPT (serum glutamic-pyruvic transaminase).SGOT dan SGPT adalah dua macam enzim yang dihasilkan oleh sel-sel hati. Kedua enzim ini digunakan sebagai indikator pada pemeriksaan fungsi hati, dimana kadarnya akan meningkat dalam darah ketika sel-sel hati mengalami kerusakan. Kedua enzim ini berfungsi penting pada pembentukan asam-asam amino yang tepat yang dibutuhkan untuk menyusun protein di hepar. Kenaikan kadar transaminase dalam serum disebabkan oleh enzim yang terlepas karena sel yang bersangkutan mengalami nekrosis, atau karena enzim yang bocor dari dalam sel. Enzim GOT sebagian besar terikat dalam organel dan lebih cepat dibebaskan dari sel hepar pada keadaan gangguan kronis. Kerusakan sel hepar terutama yang mengenai organel akan menyebabkan kenaikan SGOT yang lebih menonjol. Walaupun SGPT lebih khas untuk penyakit hepar dibandingkan dengan SGOT tetapi kedua enzim tersebut selalu dipakai bersama-sama dalam evaluasi penyakit hepar (Anindia, 2010). 2.1.2 Asap RokokMenurut Proverawati (2012) setiap kali menghirup asap rokok berarti juga menghirup sekitar 4.000  racun yang terkandung pada asap rokok. Racun tersebut dapat bertahan beberapa jam di ruangan, zat-zat tersebut antara lain :  1.   Zat kimiaKomponen gas asap rokok terdiri dari karbon monoksia, amoniak, asam hidrosianat, nitrogen oksida, dan formaldehid. Zat-zat yang terkandung pada rokok ini menjadi racun dalam tubuh, mengiritasi dan juga menjadi bahan karsinogen. 2.   NikotinNikotin dapat menyebabkan ketagihan merokok, meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, dan kebutuhan oksigen jantung. Nikotin juga dapat mengganggu kerja saraf, otak, dan bagian tubuh lainnya, selain itu nikotin dapat menyebabkan penggumpalan trombosit ke dinding pembuluh darah. Di Amerika Serikat, rokok putih yang beredar di pasaran mengandung nikotin 8-10 mg per batang, sedangkan di Indonesia sendiri kadar nikotinnya 17 mg per batang. 3.   Timah hitamKandungan timah hitam pada sebatang rokok berkisar 5 ug sementara ambang batas bahaya timah hitam yang masuk ke tubuh manusia adalah 20 ug perhari. Apabila dalam satu hari perokok mengkonsumsi lebih dari 40 batang perhari maka kandungan timah hitam yang terakumulasi ke dalam tubuh akan semakin tinggi.   4.   Gas karbonmonoksidaKarbon monoksida (CO) memiliki ikatan yang kuat untuk mengikat hemoglobin di dalam darah. Dalam kondisi normal, hemoglobin seharusnya diikat oleh oksigen. Kadar Karbon monoksida (CO) dalam tubuh bukan perokok kurang dari 1%, sedangkan kadar CO dalam tubuh perokok berkisar antara 4-15%. Karbon monoksida (CO) dapat menggantikan oksigen dalam mengikat hemoglobin menyebabkan pelepasan oksigen terganggu dan mempercepat penebalan dinding pembuluh darah. Karbon monoksida dapat menurunkan kapasitas latihan fisik, meningkatkan viskositas darah, sehingga mempermudah penggumpalan darah.5.   TarTar merupakan kumpulan beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat asap rokok, dan bersifat karsinogen. Saat rokok dihisap, tar masuk ke dalam rongga mulut sebagai uap padat dan setelah dingin akan membentuk endapan berwarna cokelat pada permukaan gigi, saluran pernafasan, dan paru-paru. Pengendapan tersebut bervariasi antara 3-40 mg per batang rokok, sementara kadar tar dalam rokok berkisar 24-25 mg.    2.2. Kerangka Pemikiran                      2.3. PremisBerdasarkan kerangka pemikiran dan tinjauan pustaka tersebut, maka semua bagian tanaman kelor memiliki manfaat bagi makhluk hidup yang lain. Daun kelor memiliki zat-zat kimia yang berguna sebagai anti oksidan. Daun kelor adalah salah satu bagian dari tanaman kelor yang memiliki manfaat sebagai antioksidan bagi tubuh makhluk hidup yang lain, salah satu contohnya mamalia. 2.4. HipotesisHipotesa pada penelitian ini berdasarkan identifikasi masalah di atas adalah :1. Seduhan daun kelor memiliki nilai antioksidan2. Seduhan daun kelor dapat diberikan pada tikus putih3. Seduhan daun kelor dapat berpengaruh terhadap kadar SGOT dan SGPT tikus putih yang terpapar asap rokok4. Kadar SGOT dan SGPT pada tikus putih yang terpapar asap rokok memiliki perbedaan baik sebelum dan sesudah diberikan seduhan daun kelor.      BAB IIIMETODE PENELITIAN 3.1. Jenis PenelitianPenelitian ini menggunakan metode true experimental dengan rancangan penelitian pre and post test randomized control group design. 3.2. Prosedur PenelitianPengambilan sampel sebanyak 30 ekor dilakukan secara purposive sampling. Hewan coba dibagi dalam 3 kelompok secara random, setiap kelompok terdiri dari  10  ekor  tikus.  Kelompok  1  sebagai  kelompok  kontrol  sedangkan kelompok  2  sebagai  kelompok  perlakuan  dosis  1  dan  kelompok  3  sebagai kelompok perlakuan dosis 2.Untuk pemilihan daun kelor, Daun kelor segar dicuci sampai bersih, kemudian ditiriskan. Pengeringan sampel dilakukan dengan cara disimpan pada suhu ruang selama 3 hari. Pembuatan seduhan daun kelor menggunakan daun yang sudah dikeringkan dan ditambah air hangat.Pemberian asap rokok akan dilakukan dengan cara menyalakan 1 batang rokok, asap rokok dialirkan melalui saluran udara di kandang tikus, selama 3 hari dengan perlakuan sehari sebanyak 3 kali, pagi, siang dan sorePengambilan darah akan dilakukan 24 jam setelah pemberian seduhan daun kelor. 3.2. Pengolahan DataData  yang  didapat  dari  ketiga  kelompok  dianalisis  secara  statistik menggunakan  uji-ANOVA  untuk  membandingkan  perbedaan  mean  lebih dari 2 kelompok dan uji t berpasangan untuk menganalisa pre dan post test. 3.2. Lokasi PenelitianPenelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran.

x

Hi!
I'm Edward!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out