Aveneu Park, Starling, Australia

KONFLIK mereka merupakan tanah perjanjian yang dijanjikanbahkan hal ini

 

KONFLIK ANTARA ISRAEL
DAN PALESTINA

A.LATAR BELAKANG

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Peristiwa
permasalahan antara Israel-Palestina dapat dikatakan sebagai salah satu
peristiwa peperangan yang memakan jangka waktu yang cukup panjang. Peristwa ini
telah berlangsung kurang lebih enam puluhan tahun dan menjadi peristiwa yang
cukup awet serta banyak menyita perhatian public khususnya dunia internasional.Masalah
ini diawali dengn berakhirnya perang dunia kedua, atau dimana saat bangsa
Yahudi sudah memikirkan untuk mempunyai negara sendiri serta saat dimana mereka
mulai keluar meninggalkan tanah Israel saat perang salib.

 Menurut orang Yahudi tanah itu merupakan tanah
mereka yang pada saat itu juga merupakan tanah bekas jajahan Inggris. Karena
secara turun-temurun memang tanah itu adalah kepunyaan mereka, hal ini juga dibuktikan
oleh adanya pandangan religious yang juga turut membenarkan hal tersebut bahwa
tanah mereka merupakan tanah perjanjian yang dijanjikanbahkan hal ini juga
didukung oleh adanya tempat-tempat beribadah umat Yahudi.Meskipun tidak secara
langsung negara-negara barat justru menyetujui dan mendukung akan hal ini
dengan alasan bahwa sebelum tanah itu ditinggali atau ditempati oleh orang
Palestina, sebelumnya sudah terdahulu oleh bangsa Israel. Namun hal ini justru
bertolak belakang dengan persetujuan orang timur-tengah misalnya negara-negara
Arab yang mengklaim bahwa semua ini disebabkan karena adanya sebuah gerakan
oleh tentara Nazi yang dinamakan gerakanGenosida sehingga seharusnya pemerintah
Jerman menyediakan tanah untuk disisihkan kepada bangsa Yahudi.

Hal
ini justru pernah diprediksikan Amerika melalui Menteri Luar Negerinya
Condoleezza Rice, pada Konfrensi Perdamaian Timur Tengah November 2008 lalu,
sebagai “pekerjaan yang cukup sulit namun bukan berarti tidak dapat diperoleh
dengan kerja keras dan pengorbanan yang luar biasa” bagi penyelesaian konflik
Israel-Palestina, semakin menunjukkan bahwa perdamaian Israel-Palestina memang
sulit terjadi. Pasalnya, akhir 2008 yang diprediksi dunia Internasional (dalam
hal ini Amerika) sebagai puncak penyelesaian konflik Israel-Palestina justru
menampakkan kondisi sebaliknya. Agresi militer Israel ke Jalur Gaza yang diluncurkan
saat itu semakin memperkuat adanya keraguan banyak pihak atas adanya konfrensi
tersebut..

Sebuah
gerakan perlawanan Islam di Palestina yang menjadi alasan penyerangan Israel.
Sulit dibayangkan, jika serangan udara Israel dalam waktu tempuh satu minggu sudah
menelan atau memakan banyak korban jiwa yang berjatuhan , keadaannya justru akan
menjadi semakin parah ditambah saat setelah Israel melancarkan serangan
daratnya, dan kondisi ini dibuktikan  dengan jatuhnya korban jiwa yang justru
melibihi angka seribu dan ribuan korban luka lainnya. Fakta lain yang sulit
untuk dihindariialah konflik Israel-Palestina berhasil menumbuhkan ciri
kenegativan di tengah masyarakat Islam sebagai konflik yang bernuansa agama.
Pandangan ini setidaknya dibangun berdasarkan asumsi bahwa Palestina diyakini
sebagai salah satu simbol spiritualitas Islam, dan korban yang berjatuhan di
tanah Palestina secara umum adalah masyarakat Islam. Konflik Israel-Palestina
dengan sendirinya dapat ditempatkan sebagai konflik sosial mengingat kasus ini
dapat perhatian dari beberapa aspek: politik dan teologi. Konflik sosial
sendiri – sebagaimana dikatakan Oberschall mengutip Coser– diartikan sebagai
“…a strugle over values or claims to status, power, and scare resource, in wich
the aims of the conflict groups are not only to gain the desired values, but
also to neutralise injure or eliminate rivals. Pengertian ini menunjukkan bahwa
konflik sosial meliputi spektrum yang lebar dengan melibatkan berbagi konflik
yang membingkainya, seperti: konflik antar kelas (social class conflict),
konflik ras (ethnics and racial conflicts), konflik antar pemeluk agama
(religions conflict), konflik antar komunitas (communal conflict), dan lain
sebagainya. Dalam kasus Israel-Palsestina, aspek politik bukanlah satu-satunya
dimensi yang dapat digunakan untuk menyoroti konflik kedua negara tersebut,
demikian halnya dengan dimensi teologis yang oleh banyak pihak dianggap tidak
ada hubungannya dengan konflik ini. Sebagian pihak memandang konflik
Israel-Palsetina nyata sebagai konflik politik, sementara sebagian yang lain
memandang konflik ini sensitif dengan nuansa teologis. Nuansa teologis dalam
konflik Israel-Palestina bukan saja ditunjukkan dengan terciptanya perang
Yahudi-Islam, akan tetapi keyakinan akan “tanah yang dijanjikan” sebagai tradisi
teologis Yahudi yang juga tidak dapat dipisahkan dalam kasus ini. Oleh
karenanya, tidak kedua aspek di atas (politik dan teologi) yang dapat dianggap
lebih tepat atau benar sebagai pemicu atau penyebab munculnya dan terjadinya konflik
Israel-Palestina, karena sepanjang sejarahnya kedua aspek tersebut turut
mewarnai konflik dan permasalahan tersebut.

B.TEORI DAN KONSEP

            Neo-realisme  merupakan sebuah teori dalam hubungan
internasional yang dicetuskan pertama kali oleh Kenneth Waltz pada tahun 1979.
Didalam buku yang berjudul Theory of International Politics, Waltz
mendukung pendekatan sistematik. Pendekatan sistematik ini adalah struktur
international bertindak sebagai pengekang perilaku negara, sehingga hanya
negara yang kebijakan-kebijakannya terlibat dalam cangkupan tersebut.

            Mengenai
topik yang diangkat yaituKonflik Israel dan Palestina, dapat dilihat secara
perspektif Neo-realis, Perang antara Israel dan Palestina pecah pada tahun 1948
pasca berdirinya negara Israel. Berdirinya negara zionis ini didasari oleh
Resolusi Majelis Umum PBB 181 tahun 1947 tentang pembagian tanah historis
Palestina yang hasilnya menghadiahi Israel bagian dari tanah palestina sebesar
55%. Namun, Israel telah melakukan penambahan wilayah secara paksa atas
Palestina dengan penambahan sebesar 23% sehingga luas wilayah Israel menjadi
78% dari total tanah Palestina.Neo-Realis tidak memihak kepada setiap individu
Palestina karena Neo-Realis hanya fokus pada bahasan state bukan pada individu.
Sehingga, pembahasan mengenai individu di dalam konflik Israel dan Palestina
terabaikan.

Neo Realisme berkontribusi dalam menganalisa Balance Of
Power (BOP). Balance of Power dalam hubungan internasional adalah suatu
keseimbangan kekuasaan yang digunakan untuk mencegah salah satu pihak dari
suatu negara yang memaksakan kehendaknya atau mengganggu kepentingan negara
lain. BOP diperlukan untuk menjaga eksistensi suatu Negara agar tetap bisa
bertahan dalam sistem internasional yang anarki. Negara yang lebih kuat, akan
lebih mudah mendapatkan kepentingan nasionalnya. Dalam konflik ini, Yang
menjadi masalah adalah Balance of Power dalam satu wilayah yang tidak equal,
yaitu Perimbangan kekuatan antara Israel dan palestina tidak seimbang. Hal ini dapat
dilihat dari jumlah kekuatan militer yang dimiliki Israel dan Palestina. Nampak
 power yang dimiliki Israel jauh lebih
kuat dibandingkan dengan Palestina. Oleh karena itu, satu-satunya cara
Neo-Realisme untuk menghentikan power Israel terhadap Palestina adalah merubah
BOP agar dapat menguntungkan Palestina. Hal ini mengharuskan perlu adanya
bantuan dan tambahan militer dari pendukung Palestina untuk dapat mengimbangi
power Israel. Jika Israel terus membangun kekuatan militernya tanpa ditandingi
oleh militer Palestina, konflik ini akan terus memberi keuntungan bagi Israel.

Selain kontribusi Neo Realisme dalam menganalisa isu
Palestina-Israel terdapat setidaknya tiga kelemahan pendekatan ini. Pertama,
teori Neo Realisme terlalu buta terhadap dinamika politik domestik. Sebagaimana
salah satu asumsi utamanya, negara dianggap sebagai aktor yang uniter dan tidak
terpecah belah. Asumsi ini menyulitkan Neo Realisme untuk menganalisa konflik
ini. Dalam konflik ini, bukan hanya negara yang berperan penting. Tapi peran
aktor non-state juga sangatlah penting, seperti Fatah dan Hamas yang terus
berusaha memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Banyak dari pemuda-pemuda
Palestina yang membentuk kelompok-kelompok nasionalis yang ditujukan untuk
merebut kembali Palestina. Beberapa diantara kelompok itu menjadi fedayeen, dan
para pejuang kemerdekaan. Dalam tujuh tahun pertama dari keberadaan negara
Israel, 1.300 orang Israel terbunuh dalam serbuan orang-orang Palestina. Akor
non-State tidak bisa dianggap tidak berperan dalam konflik ini, karena jika
organisasi-organisasi tersebut tidak ada, tidak ada perjuangan untuk melakukan
perlawanan terhadap Israel yang jauh lebih unggul dalam persenjataan
dibandingkan dengan Palestina.

Konsekuensi lain dari karakter state-centric Neo-Realisme
adalah terabaikannya kepentingan masyarakat sipil

PBB
bisa dikatakan, hanya sebagai lembaga yang berada dibawah naungan Amerika
Serikat, karena hampir semua keputusan yang diambil PBB harus mendapat
persetujuan dari Amerika Serikat karena Amerika yang menguasai sistem internasional.
Dominasi di PBB. Hal ini justru menyulitkan kebijakan yang tidak pro terhadap
Israel karena Amerika Serikat adalah sekutu dekat Israel. Israel mendapat
bantuan keuangan, bantuan militer, dan dukungan diplomatic dari Amerika. Amerika
Serikat juga telah memberikan bantuan dana sekitar $ 3 miliar per tahun dalam
bidang ekonomi, militer, dan bantuan mengenai permasalahan refugee kepada
Israel. Selain itu, kedekatan antara Israel-Amerika karena adanya lobi Yahudi
pada Kongres. Salah satu lobi Israel yang paling besar di Amerika adalah AIPAC
(American-Israel Public Affairs Committee). Inilah faktor kuat yang menyebabkan
Israel sulit untuk mendapat hukuman dari pengadilan Internasional dari PBB
karena Israel memiliki hubungan yang sangat baik dengan Amerika.

            Etnosentik (merasa budaya mereka
sendiri lebih baik daripada budaya lain), sejarah menunjukkan bahwa konflik
peperangan terjadi akibat adanya salah komunikasi atau salah paham dan pemimpin
bangsa tidak meghargai budaya lain dan juga prasangka buruk terhadap negara
lain. Labelling penyimpangan bukan
seperangkat ciri individu atau kelompok, melainkan sebuah proses interaksi para
penyimpang dan bukan penyimpangan. Israel dan Palestina juga terdapat saling
bunuh diantara kedua pihak yang bermasalah atau bertikai.

 

C.ISI DAN DATA

            Konflik Israel-palestina, sudah sejak dulu menyita
perhatian dunia Internasional dimulai 
sejak perang Arab –Israel dan akhirnya Israel mendirikan sebuah Negara.
Pada saat perang dunia kedua berakhir dimana Amerika Serikat ,sebagai
“pemenang” perang dunia ke 2 memiliki pengaruh politik dunia Internasional
terkait masalah Israel yaitu dengan menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB.Faktamenyatakan bahwa AS dan Inggris turut
berperan penting dalam berdirinya Negara Israel.Deklarasi
Balfour, dan juga terbitnya Resolusi 181 Majelis Umum PBB tahun 1947 merupakan
titik  awal konflik yang berkepanjangan
sampai sekarang yaitu pembagian wilayah Palestina menjadi tiga bagian yang
memberikan hak Israel atas Palestina.

            berbicara mengenai permasalahan konflik
Israel-Palestina ,tidak dapat dihindari atau dipungkira juga bahwa ada  antara hubungan AS-Israel,sejarah telah
membuktikan bahwa dalamdunia Internasional. kedua Negara ini bersama-sama
memiliki hubungan kuat, baik secara politik,militer,dan ekonomi.

            Pecahnya tragedy yang bersifat kemanusiaan serta
meperihatinkan,Pihak dari AS hanya berdiam diri atau malah medukung penuh
Israel , tidak dapat dipungkiri bahwa banyak 
negara-negara yang merasa simpati terhadap bangsa palestina atas kekejian
yang dilakukan Israel.Saat ini,
kondisi Negara Palestina yaitu sudah dikelilingi oleh pendudukan Israel,dan
Palestina hanya berbatasan dengan mesir.Sumber bantuan untuk masyarakan di
palestina dapat masuk melalui Israel,dan mesir.Tentu saja
,jika dibayangkan sulit sekali bantuan ini masuk ,karena Israel jarang sekali
membiarkan bantuan masuk,bahkan ketika perang januari 2008,bantuanpun tertahan
bertumpuk-tumpuk di Israel.

Mesir
yang sudah berhubungan baik dengan Amerika tentu saja sulit membawa bantuan
dengan bebas,karena Mesirpun memiliki kepentingan sendiri dengan AS. Oleh
karena itu, MER-C ,dan juga pers yang haknya sudah dilindungi dalam dunia
Internasional (Konferensi Jenewa),seharusnya dapat masuk untuk memberikan
bantuan untuk warga Palestina.Namun,
kemarin kita melihat bahwa Kapal yang mengangkut bantuan kemanusiaa,juga
relawan MER-C ,bahkan sulit untuk menembus wilayah palestina.Alih-alih ingin menolong,malah
ada korban meninggal dunia, yang seharusnya tidak sepantasnya terjadi.

AS dan Israel menyetujui bantuan militer
senilai 38 milyar Dolar yang diberikan dalam jangka waktu 10 tahun. Ini adalah
jumlah tertinggi yang pernah disepakati dalam sejarah. Kesepakatan didahului
perundingan alot selama 10 bulan yang digelar di belakang layar.Saat ini masih
berlaku kesepakatan 10 tahun yang akan berakhir 2018. Menurut kesepakatan
terakhir, sekutu AS di Timur Tengah itu mendapat bantuan militer senilai 3,1
milyar Dolar per tahun. Sejauh ini, pemerintah Israel belum memberikan
pernyataan apapun.Padahal
korban utama dalam konflik ini adalah rakyat sipil. Terlebih saat serangan
Israel ke Jalur Gazza pada Januari 2009, jumlah korban agresi militer Israel ke
Jalur Gaza kebanyakan adalah warga sipil. Data dari Palestinian Centre for
Human Rights menyebutkan, dari 1.434 warga Gaza yang gugur syahid setelah
serangan Isreal ke jalur Gazza pada januari 2009, 960 orang adalah warga sipil
Palestina, 235 pejuang dan 239 aparat kepolisian dan korban luka mencapai 5.000
orang. Sedangkan konflik yang terjadi antara pemuda dan Tentara Israel tidak
ada korban meninggal 12 orang pemuda Palestina ditahan oleh tentara Israel, dan
beberapa orang luka-luka220 korban tewas adalah
anak-anak berusia di bawah 17 tahun dan Total kerugian ekonomi akibat agresi ke Gaza mencapai 2,4 milyar
dolar US, 1.960 milyar dolar US kerugian langsung, 440 juta dolar US kerugian
tidak langsung.akibat agresi ‘Israel’ ke Jalur Gaza, sebanyak 22 lembaga sosial
rusak, 180 ribu penerima santunan, 475 ribu orang terlantar akibat kekerasan
‘Israel’ dan 310 ribu orang terlantar dan terusir dari rumah mereka dan 165
ribu terusir karena rumah mereka hancur.

Berikut
usaha perundingan dan perjanjian yang dilakukan guna untuk mencapai suatu
perdamaian antar sebuah pertanda untuk berakhir sebuah tragedy perang antar
kedua negara tersebut .

PERJANJIAN CAMP DAVID

Setelah kekalahan
perang Koalisi Arab vs Israel dan berakhir dengan kemenangan Israel yang
menguasai hampir seluruh Palestina (Yerusalem Timur, Tepi Barat, Jalur Gaza)
serta dataran tinggi golan (Suriah) dan Semenanjung Sinai (Mesir) maka Pada
tahun 1978 di Camp David, Amerika Serikat, disepakati perjanjian
damai antara Mesir dan Israel yang dikenal dengan Perjanjian Camp
David di mana Israel berjanji akan mengundurkan diri sampai ke
perbatasan internasional dan dimana seluruh daerah Sinai menjadi
daerah demilitarisasi dan diserahkan kepada Mesir.

PERJANJIAN OSLO

Perjanjian Oslo menandai berakhirnya Intifada pertama,
yaitu perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel. Pada awal 1990-an, PLO
mengubah taktik perjuangannya. PLO mulai meninggalkan cara-cara keras
menggunakan senjata dan mulai mencoba cara-cara diplomasi. Pada awal 1993, para
perunding Israel dan PLO melakukan serangkaian pembicaraan rahasia di Oslo,
Norwegia. Pada 9 September 1993, Pemimpin PLO Yasser Arafat mengirim surat
kepada PM Israel Yitzhak Rabin. Isi surat itu adalah PLO mengakui hak hidup
Israel dan secara resmi meninggalkan cara perjuangan bersenjata.

PERJANJIAN CAMP DAVID II

Pembicaraan di Camp David berlangsung antara tanggal 11 sampai
25 Juni tahun 2000. Presiden Amerika Serikat kala itu, Bill Clinton, berharap
agar Israel dan Palestina dapat meredakan konflik, seperti halnya 22 tahun
sebelumnya, ketika mantan Presiden Jimmy Carter berhasil mewujudkan perdamaian
antara Israel dan Mesir.

Tapi keberhasilan seperti itu tidak diraih oleh Bill
Clinton. Perdana Menteri Israel ketika itu Ehud Barak dan Pimpinan PLO Yaser
Arafat tidak berhasil melakukan pendekatan. Sampai sekarang Barak masih
menganggap telah menawarkan kepada Palestina untuk menukar 90 persen wilayah
Palestina yang didudukinya dengan perdamaian. Tapi hal itu dibantah Palestina.
Dan Palestina menandaskan bahwa tawaran Israel tidak dapat diterima. Karena,
antara lain Israel menuntut seluruh wilayah Yerusalem dan menolak hak untuk
memulangkan pengungsi Palestina.

D.ANALISA KRITIS DAN ARGUMENTASI

            Perang yang melibatkan dua negara Israel
dan Palestina ini dapat dikatakan bahwa awal muncul masalah tersebut
dikarenakan adanya deklarasi Balfour, dan juga
terbitnya Resolusi 181 Majelis Umum PBB tahun 1947 merupakan titik  awal konflik yang berkepanjangan sampai
sekarang yaitu pembagian wilayah Palestina menjadi tiga bagian yang memberikan
hak Israel atas Palestina. Yang sebenarnya membuat palestina tidak setuju
dengan hal tersebut dikarenakan pada saat kemenangan Israel atas Arab Saudi
sehingga Israel meluaskan atau menambah daerah kekuasaanya 30% dari daerah yang
sudah dibagi sehingga Nampak dengan jelas bahwa hampir seluruh wilayah
palestina telah dikuasai oleh Israel. Semua ini tidak dapat dihindari bahwa
dibalik semua ini turut ada campur tangan Amerika Serikat yang juga merupakan
sekutu dekatnya Israel sehingga Israel dengan seenaknya bertindak.

            Dalam hal ini Palestina yang secara teritori dihimpit
oleh Israel dan Mesir nampak tidak dapat berbuat terlalu banyak dan justru
mengalami hambatan. Bahkan Mesir pun tidak mampu berbuat banyak untuk
memberikan bantua saja karena sulit hal ini dikarenakan mesir masih menjalin
kerjasama erat dengan Amerika sehingga membuatnya sulit. Israel pun melakukan
hal yang sangat keji yaitu menahan kapal berisi bantuan untuk Palestina bahkan
akibat penahan tersebut banyak memakan korban. Pihak dunia pun tidak tinggal
diam melihat hal tersebut dan mengatakan bahwa yang dilakukan Israel sudsah
kelewatan batas perang internasional. Jumlah korban yang berjatuhan kian hari
kian meningkat bahkan jumlahnya tidaklah sedikit justru semakin banyak dari
yang tadinya seribu sekarang menjadi dua ribu lebih korban bahkan anak kecil
dan perempuan. Hal ini sungguh sangatlah tidak diinginkan untuk semua.  Banyak sekolah dan bangunan penting lainya
hancur serta akses kemanapun menjadi terikat.

 

E.KESIMPULAN DAN SARAN

Masalah
yang terjadi antara Israel-Palestina sudah bukanlah menjadi menjadi masalah
kecil yang terjadi, masalah tersebut sudah merupakan agenda pembahasan
Internasioanl. Masalah berat yang harus diselesaikan karena sudah terlalu
banyak memakan korban dan biaya.  Perang
yang diawali karena perebutan tanah kekuasaan yang dapat dikaitkan dengan
berbagai aspek seperti politik dan teologis yang justru sangat sensitive.
Isarel-Palestina haruslah mencari cara untuk menyudahi semua ini. Satu-satunya
cara untuk menyudahinya ialah salah satu dari mereka haruslah merelakan
semuanya atau mengalah, karena dengan itulah maka tidak akan nada lagi
peperangan yang berkelanjutan bahkan anak kecil tidak akan menjadi korban lagi.

F.REFERENSI

A. Oberschall. 1978. “Theories of Social
Conflict”. Annual Review of Sociology. Vol. 4. Page:291-315 Ralph
Scoenman. 2007. “The Hidden Histroy of Zionism”. Terjemah: Joko. S. Kahhar. Sejarah
Zionisme yang Tersembunyi. Sajadah Perss.

Derk Prince. 1982. “The Last World on
the Midle East”. Terjemah: Timur Tengah, Ungkapan Nubuat. Malang:
Gandum Mas

Irwansyah. 2004. “Perkembangan Pemikiran
tentang Kerukunan Hidup Umat Beragama: Suatu Analisis”, dalam: H. M. Ridwan
Lubis, dkk (ed). Konsep Kerukunan Hidup Umat Beragama, Kumpulan Karya dalam
Konteks Pluralitas Agama dan Budaya. Medan: LPKUB Perwakilan Sumut

Karen Armstong. 2000. “The Battle of
God”. Terjemah: Satrio Wahono, dkk. Berperang Demi Tuhan, Fundamentalisme
dalam Islam, Kristen dan Yahudi. Jakarta: Serambi, hlm: 231

Trias Kuncahyono. 2008. Jerusalem:
Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir. Jakarta: Kompas

Jackson, Robert dan Georg
Sorensen.(2009).”Pengantar Studi Hubungan Internasional”. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.

Khairi, Ahmad Gazali dan Amin Bukhairi.2009  “Air Mata Palestina”
Penerbit: Hi-Fest Publishing;Jakarta

Lockman, Zachary and Joel Benin.
1990.”INTIFADA The Palestinian Uprising Againts Israeli Occupation” Publisher:
British Library Cataloguing in Publication data. London

Jackson, robert and Georg Sorensen.
2009. “Introduction to International relations”. Dan diterbitkan dalam edisi
bahasa Indonesia dengan judul “Pengantar Hubungan Internasional”.Penerjemah
:Dadan Suryadipura. Penerbit: Pustaka Pelajar. Jogjakarta

x

Hi!
I'm Edward!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out